<!– @page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in } P { margin-bottom: 0.08in } –>

DANA PARA CALEG

Aturan kini memberikan keleluasaan para caleg untuk “ mengenalkan “ diri sendiri kepada public. Karenanya, tiba-tiba jalan-jalan kota dipenuhi gambar-gambar para caleg dalam ukuran yang mencolok. Bahkan, ada caleg yang menghabiskan dana sampai Rp. 6 miliar untuk menuntaskan ambisinya menjadi anggota legislative.

Memang, sekarang ini disepanjang jalan (terutama jalan-jalan yang ramai lalu-lalang kendaraan) banyak sekali gambar-gambar caleg baik itu dari partai bergambar banteng, burung, bintang, ka’bah dan yang lainnya. Ada yang dipajang dipinggir jalan, ada juga yang ditempel ditembok-tembok pagar. Membuat pemandangan semakin semarak dan “ indah “ saja.

Tentunya pemasangan gambar tersebut mempunyai tujuan, diantaranya agar para masyarakat dapat mengenal tokoh-tokoh caleg tersebut. Dengan adanya gambar tersebut, diharapkan masyarakat dapat mengenal dan mengetahui caleg-caleg (beserta partai) tersebut serta dapat memberikan dukungannya. Sehingga nanti pada saat pemilihan, masyarakat tidak bingung dan keder pada caleg-caleg yang harus dicoblos.

Tetapi, yang menjadi pertanyaan apakah strategi tersebut efektif? Mungkin jika hanya sekedar pengenalan saja itu bias efektif. Namun, jika tujuannya agar masyarakat nantinya bakal memilihnya, itu saja tidak cukup. Apalagi jika sampai menghambur-hamburkan uang sampai segitu banyaknya. Kalau itu uang sendiri sih oke-oke saja toh jika tidak terpilih yang rugi dia sendiri. Tetapi jika itu uang partai yang mendukungnya? Dan uang partai juga uang rakyat kan? Maka itu akan sangat merugikan semua pihak. Sudah mengeluarkan dana banyak, nggak terpilih pula, benar-benar amat sangat rugi dan sia-sia belaka.

Yang diperlukan disini adalah strategi yang jitu dan tepat sasaran. Sehingga dengan strategi tersebut, masyarakat akan mengenal dan yang lebih penting mengetahui sepak terjangnya dalam usaha memakmurkan rakyat. Mungkin salah satu strategi tersebut dengan membuka atau menciptakan lapangan kerja sehingga jumlah pengangguran akan berkurang. Atau bisa juga dengan membantu mengentaskan kemiskinan, dan itu bisa dilakukan dengan berbagai macam cara.

Dengan cara-cara tersebut, maka masyarakat akan mengenal dan menghormatinya sebagai “ dewa penolong “ dan bisa mengambil hati masyarakat. Mungkin cara itu seperti tidak ikhlas alias ada udang di balik batu. Akan tetapi, jika itu memberikan keuntungan bagi kedua belah pihak, maka mengapa tidak? Rakyat mendapatkan apa yang ia butuhkan berupa lapangan pekerjaan misalnya dan caleg juga mendapatkan apa yang ia inginkan berupa penghargaan dan dukungan. Sama-sama menguntungkan seperti simbiosis mutualisme kan?

Itu baru dari satu caleg dan satu strategi. Jika ada misalnya lima caleg dan masing-masing caleg menerapkan strategi yang berbeda yang pada intinya mengentaskan segala kesulitan masyarakat, walaupun dengan alasan menarik simpati rakyat itu sudah sangat luar biasa hasilnya. Misalnya caleg 1 dari segi ekonomi, caleg 2 dari segi pendidikan, caleg 3 dari segi lapangan pekerjaan. Malah jika hanya 3 caleg saja tetapi benar-benar menerapkan strategi yang jitu, maka hasilnya sudah cukup memuaskan.

Apalagi jika ditunjang dengan dana yang cukup besar (Rp.6 miliar/caleg misalnya). Wah, akan sangat menguntungkan sekali bukan? Mungkin sebelum para caleg itu menjabat sebagai legislative beneran, para rakyat sudah sedikit lebih mapan kehidupannya. Dan tentunya, setelah mereka menjabat, akan lebih makmur lagi.

Tetapi, yang sangat disayangkan, para caleg tidak berpikir sampai di situ. Mereka hanya memikirkan bagaimana caranya agar dapat memenangkan pemilihan dan bagaimana daapt memakmurkan pribadi dan golongan. Mereka tidak mempedulikan masyarakat yang dari merekalah dana-dana itu terkumpul. Seperti mimpi di siang bolong saja, atau lebih tepatnya utopis banget jika pemaparan diatas dapat terwujud.

Oleh karena itu, para masyarakat hendaknya tidak terbuai pada janji-janji manis nan palsu mereka. Yang di perhatikan adalah sepak terjang mereka selama ini, seberapa besar peran mereka dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat.

HUMOR

 

Masuk Neraka

Seorang guru tengah menerangkan tentang surga dan neraka di hadapan murid-muridnya yang tengah duduk di bangku masing-masing.  Sang guru pun bertanya…

Guru: “ Siapa di antara kalian yang ingin masuk neraka? Kalau ada coba berdiri.”

Murid: “ Tidak adaaa, bu guru.” (tiba-tiba halimah berdiri)

Guru: “ Kenapa kamu berdiri,halimah?Memang kamu mau masuk neraka?”

Halimah: “ Saya kasihan melihat bu guru berdiri sendirian.  Jadi saya ingin menemani bu guru masuk neraka.  Bolehkan ??!”

JANGAN CIPTAKAN SUASANA RUMAH KITA SEPERTI PASAR

Hj.  Neno Warisman pernah menyinggung type-type suasana rumah keluarga, yaitu:

 

  1. Suasana rumah seperti hotel

Sperti kita ketahui bahwa yang namanya hotel, penghuninya silih berganti, antar penghuni satu dengan yang lainnya tidak pernah ada komunikasi.  Rumah (hotel) yang ditempatinya semata-mata hanyalah sebagai tempat berteduh dan tempat numpang tidur.  Dan sang penghuni tak peduli terhadap kebersihan. 

 

  1. Suasana rumah bertype pasar

Pasar adalah tempat transaksi, tempat orang mencari untung.  Di pasar banyak orang berbohong, banyak yang mengurangi timbangan, atau kualitas barang.  Apabila ada sebuah rumah yang masing-masing anggotanya maunya mencari untung sendiri bagaikan pasar, pasti hubungan anggotanya tidak harmonis.

 

  1. Suasana rumah bertype hutan rimba

Seperti kita ketahui bahwa kehidupan di hutan belantara itu selalu menggunakan hokum hutan rima, yang kuat itulah yang menang.  Keluarga yang memberlakukan hokum rimba, pasti tidak akan sehat, apalagi sesame keluarga, karena anggota keluarga yang lemah yang mestinya harus di Bantu malah justru di peras.

 

  1. Suasana rumah bertype sekolah

Sekolah adalah media pendidikan.  Apabila sebuah rumah suasananya bagaikan sekolah, maka Nampak di situ dalam kesehariannya mencerminkan suasana pendidikan, sejak bangun tidur di pagi hari sampai tidur lagi di malam hari.

 

  1. Suasana rumah bertype masjid

Masjid adalah tempat ibadah, tempat untuk mendekatkan diri kepada sang pencipta.  Sebuah rumah yang suasana kesehariannya bagai suasana masjid, dalam arti bernuansa islami, adalah suasana rumah yang bertype masjid.  Suasana rumah semacam itu bagai sorga (baiti jannati).

 

Berdasarkan type-type suasana rumah tadi, amat bijaklah kiranya apabila suasana rumah yang kita upayakan adalah rumah yang bernuansa sekolah dan masjid, dan bukan bagai sebuah hotel, pasar apalagi hutan rimba.

TIPS ATASI RASA MALU
1. Terimalah diri kita apa adanya.
2. Hadapi rasa takut, jangan dihindari.
3. Jangan mudah menyalahkan diri sendiri ketika berbuat salah.
4. Lupakan kegagalan masa lalu dan jadikan pelajaran.
5. Jangan ragu untuk mencari pengalaman baru.
6. Hargai diri sendiri.
7. Beranikan bicara dengan orang lain.
8. Positif thinking
9. Hindari perasaan ketergantungan pada orang lain
10. Hadapi masalah dan selesaikan
11. Sering bergabung dengan lingkungan yang mendukung.

Selamat datang di Blog Keluarga Malhikdua. Ini adalah posting pertama anda. Ubah atau Hapus, kemudian lakukan ngeBlog sekarang juga!

Canada pharmacies online